http://103.81.100.242/index.php/jpt/issue/feedJURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA2025-02-14T13:47:55+08:00Muhammad Indar Pramudimuhammadindarpramudi@ulm.ac.idOpen Journal Systems<p>Jurnal Proteksi Tanaman Tropika dikelola oleh Prodi Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian ULM. Jurnal ini disingkat JPTT, memuat tentang penelitian dari bidang perlindungan tanaman atau proteksi tanaman, biodiversitas, entomologi, fitopaatologi, agensia hayati, pestisida nabati dan teknologi perlindungan tanaman. </p> <p>Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nomor 79/E/KPT/2023, tanggal 11 Mei 2023 tentang Peringkat Akreditasi Jurnal Ilmiah periode I Tahun 2023, Jurnal Proteksi Tanaman Tropika terakreditasi Peringkat 5 mulai Volume 4 Nomor 1 Tahun 2021 sampai Volume 8 Nomor 3 Tahun 2025</p>http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3080Aplikasi PGPR, Trichoderma sp. dan Bokashi Kiambang (Pistia stratiotes L.) Untuk Mengendalikan Penyakit Layu Fusarium Pada Padi Beras Merah (Oryza nivara L.) Di Lahan Basah2025-02-04T23:09:48+08:00Wiwik Krisnawatiwiwikrisnawati1107@gmail.comIsmed Setya Budiisbudi@ulm.ac.idYusriadi Marsuniyusriadimarsuni@ulm.ac.id<p>Padi beras merah mulai banyak dibudidayakan karena dimanfaat untuk kesehatan, namun penanamannya seringkali mengalami kendala, salah satunya adalah gangguan penyakit layu fusarium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh PGPR (<em>Plant Growth Promoting Rhizobacteria</em>), <em>Trichoderma </em>sp. dan Bokashi Kiambang terhadap kejadian penyakit layu fusarium pada padi merah. Metode menggunakan RAL. Penelitian dilakukan di lahan basah kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Pengamatan ini dilakukan sebanyak empat kali yaitu sebelum perlakuan, sepuluh hari setelah perlakuan pertama dan berikut tiap 10 hari. Hasil pengamatan kejadian penyakit serangan penyakit layu fusarium yang muncul daun hijau kekuningan, cepat mengering dan tanaman mati. Hasil kejadian penyakit pada perlakuan aplikasi PGPR, <em>Trichoderma </em>sp dan bokashi kiambang tidak berpengaruh. PGPR, <em>Trichoderma </em>sp dan bokashi kiambang tidak memberikan pengaruh karena tanaman padi memasuki pada fase generatif. Penggunaan kombinasi PGPR, <em>Trichoderma</em> sp. dan bokashi kiambang dapat meningkatkan jumlah bulir/malai pada perlakuan 60 hari. 70 hari dan80 hari sebesar 223,00 bulir/malai, sedangkan pada kontrol hanya 147,00 bulir/malai. Hasil penggunaan kombinasi PGPR, <em>Trichoderm</em>a sp. dan bokashi kiambang dapat meningkatkan berat 100 bulir seberat 2,18 g disbanding kontrol hanya 1,15 g.</p>2025-01-23T15:32:30+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3081Kejadian Penyakit Antraknosa Yang Disebabkan Oleh Colletotrichum sp. Pada Tanaman Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.) Di Kecamatan Landasan Ulin Banjarbaru2025-02-04T23:09:49+08:00Pankrasius Ivan Luisivansama8@gmail.comElly Liestianyelly.liestiany@ulm.ac.idSalamiah Salamiahsalamiah@ulm.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk melihat kejadian penyakit antraknosa pada buah cabai yang terserang oleh cendawan patogen <em>Colletotrichum</em> sp. yang menyerang tanaman cabai rawit di lahan pertanian yang ada di Banjarbaru. Metode penelitian ini menggunakan metode <em>stratified purposive sampling.</em> Metode <em>stratified purposive sampling</em> adalah satu teknik pengumpulan data sampel penyakit yang dimana secara acak serta memperhatikan suatu tingkatan atau stratifikasi pada elemen populasi yang akan ditentukan dan diamati. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dengan mengambil kasus kejadian penyakit pada pertanaman cabai rawit yang terserang patogen antraknosa di lahan pertanian cabai rawit di Kecamatan Landasan Ulin Tempat atau lokasi tempat pengamatan ditentukan secara <em>purposive sampling</em> atau pengambilan lokasi secara sengaja, yakni dengan pertimbangan pada buah cabai yang terinfeksi antraknosa. Pada tiap lahan pertanaman cabai rawit dengan rata-rata total kejadian penyakit antraknosa yang ada pada buah dan tanaman cabai rawit selama 5 minggu berturut-turut pada Kelurahan Guntung Manggis memiliki persentase kejadian penyakit antraknosa dengan total sebesar 11.15%, sedangkan pada Kelurahan Loktabat Utara pada lahan tanaman cabai rawit dengan persentase kejadian penyakit total 15.59% dan pada Kelurahan Landasan Ulin Utara Jalan Sukamara dengan kejadian 4,20%</p>2025-01-23T15:37:04+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3082Pembuatan Perangkap Tikus Semi Otomatis Dengan Sensor Gerak2025-02-04T23:09:51+08:00Mi’rajzul Hudia Nurdimirajzul.huda@gmail.comMuhammad Indar Pramudiindar_pramudi@yahoo.comYusriadi Marsuniyusriadimarsuni@ulm.ac.id<p>Dalam usaha meminimalisir dampak negatif pemakaian bahan kimia untuk memberantas tikus, maka perlu dicari alternatif pengendalian lain dengan menggunakan perangkap. Banyaknya alat perangkap tikus konvensional yang kurang efektif dalam penggunaannya dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri. Menyikapi Permasalahan ini, penulis mencoba merancang perangkap tikus semi otomatis yang digabungkan dengan sensorik (gerak). Tujuan dari penelitian ini adalah Pembuatan perangkap tikus semi otomatis serta berbagai desain untuk mengetahui yang lebih efektif untuk menjebak tikus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini dengan pengendalian perangkap yang dilakukan di persawahan. Pemasangan perangkap di uji coba keefektifan sensoriknya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa sensor gerak yang terpasang pada perangkap mendeteksi adanya pergerakan yang terlihat pada aplikasi android dan berhasil memerangkap tikus.</p>2025-01-23T15:42:11+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3083Efektifitas Ukuran Panjang Lubang Masuk Perangkap Tikus Sawah (Rattus argentiventer)2025-02-04T23:09:51+08:00Muhammad Indra Rifaniindrarifani3@gmail.comMuhammad Indar Pramudiindar_pramudi@yahoo.comYusriadi Marsuniyusriadimarsuni@ulm.ac.id<p>Rusaknya tanaman padi akibat tikus sawah (R. argentiventer) mulai dari persemaian, pengendalian tikus memakai perangkap adalah cara pengendalian yang relatif lebih aman dibandingkan penggunaan bahan kimia. Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui efektivitas panjang pipa masuk perangkap tikus dalam memerangkap tikus sawah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui pengaruh efektivitas panjang lubang masuk perangkap dalam memerangkap tikus sawah yang terdiri dari 5 perlakuan. Hasil dari penelitian ini menunjukan perangkap tikus dengan panjang lubang masuk 15 cm lebih efektif dalam memerangkap tikus sawah jika dibandingkan dengan perangkap lubang masuk 20 cm dan 25 cm, karena pada perangkap dengan panjang lubang masuk 15 cm mampu memerangkap 3 ekor tikus sawah. Sementara pada perangkap kontrol didapat 1 ekor.</p>2025-01-23T15:45:23+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3084Efektifitas Larutan Daun Gelinggang (Cassia alata L.) dalam Menghambat Kejadian Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp.) pada Tanaman Cabai Rawit2025-02-04T23:09:52+08:00Norhuda Ariatul Janahnoor.hudaapp78@gmail.comDewi Fitriyantidewifitriyanti@ulm.ac.idNoor Aidawatinooraidawati@ulm.ac.id<p>Penelitian ini menggunakan pestisida nabati dari larutan daun gelinggang yang bertujuan untuk mengetahui efektivitas larutan daun gelinggang dalam menghambat kejadian penyakit cendawan Colletotrichum sp. pada tanaman cabai rawit. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor yang terdiri dari 6 perlakuan dengan 4 kali ulangan, setiap unit perlakuan terdiri dari 2 tanaman sehingga total tanaman yang diujikan sebanyak 48 unit satuan percobaan. Perlakuan yang digunakan yaitu tanpa perlakuan (T0), perlakuan kimia (TM) larutan daun gelinggang 5% (T1), larutan daun gelinggang 10% (T2), larutan daun gelinggang 15% (T3) dan larutan daun gelinggang 20% (T4). Hasil penelitian menunjukan bahwa larutan daun gelinggang efektif dalam menghambat kejadian penyakit antraknosa. Dengan persentase kejadian penyakit paling rendah sebesar 31,3% perlakuan T4, diikuti perlakuan T3 sebesar 32,5%, T2 sebesar 36,3% berbeda dengan tanpa perlakuan (kontrol) yaitu sebesar 47,5.</p>2025-01-23T15:48:37+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3085Kemampuan Pseudomonas Kelompok Fluorescens dalam Meningkatkan Ketahanan Tanaman Tomat Terhadap Infeksi Virus Keriting Kuning2025-02-04T23:09:52+08:00Nur Halimahnurhalimah.ulm@gmail.comNoor Aidawatinooraidawati@ulm.ac.idDewi Fitriyantidewifitriyanti@ulm.ac.id<p>Penelitian ini menggunakan <em>Pseudomonas</em> <em>fluorescens</em> yang diduga dapat menghambat populasi penyakit serta dapat menginduksi ketahanan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan <em>Pseudomonas </em>kelompok <em>fluorescens</em> dalam mengendalikan infeksi virus keriting kuning pada tanaman tomat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor terdiri dari lima, yaitu 3 perlakuan, 1 perlakuan kontrol+ & 1 kontrol, perlakuan diulang 4 kali sehingga berjumlah 20 tanaman. Setiap satuan percobaan berisi 2 tanaman tomat sehingga berjumlah 40 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan isolat <em>Pseudomonas </em>kelompok<em> flourescens</em> asal bambu, pakis dan cabai mampu menginduksi ketahanan tanaman tomat terhadap infeksi virus keriting kuning tomat dan hanya isolat <em>Pseudomonas </em>kelompok<em> flourescens</em> asal pakis yang mampu memacu pertumbuhan tanaman tomat.</p>2025-02-03T12:01:29+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3086Efektivitas Penggunaan Fermentasi Buah Kakao (Theobroma cacao l.) Sebagai Bioherbisida Pada Gulma Patikan Kebo (Euphorbia hirta)2025-02-04T23:09:53+08:00Royh Rahmanroyhrahman412@gmail.comSamharinto Soedijosamharinto@ulm.ac.idHelda Orbani Rosaheldaorbanirosa@ulm.ac.id<p>Salah satu alternatif pengendalian gulma yang ramah lingkungan adalah dengan memanfaatkan limbah tanaman kakao (Theobroma cacao L). Dapat digunakan sebagai herbisida biologis. Tujuan dari penelitian ini adalah efektifitas lamanya waktu fermentasi bioherbisida dari kulit dan biji kakao dalam mengendalikan gulma. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non factorial, yang terdiri dari 4 perlakuan (K (Kontrol), M1 (7 hari), M2 (14 hari), M3 (21 hari) dan M4 (28 hari)) dengan ulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan gulma dapat ditekan dengan bioherbisida kakao dari pengamatan minggu 1 hingga minggu ke 3, dengan skor keracunan yang tertinggi yaitu 4 (Keracunan sangat parah; daun muda mempunyai bentuk dan warna tidak normal hingga mengering dan rontok hingga tanaman mati). Gejala kerancun yang ditimbulkan biorherbisida tersebut ada perubahan warna daun dari warna hijau menjadi pucat dan akhirnya mati.</p>2025-02-03T12:05:04+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3087Efektivitas Kombinasi Bakteri Streptomyces sp Dengan Pestisida Nabati Daun Sirih Dan Daun Kelakai Terhadap Penyakit Antraknosa Pada Cabai Hiyung2025-02-14T13:47:55+08:00Muhammad Dede Erlanggadedeerlangga18@gmail.comIsmed Setya Budiisbudi@ulm.ac.idMariana Marianamariana@ulm.ac.id<p>Cabai merupakan komoditas yang mengalami fluktuasi harga akibat tingginya permintaan. Pada 2021 produksi cabai rawit di Indonesia turun 8,09% dibanding 2020. Penyakit antraknosa disebabkan oleh jamur <em>Colletotrichum</em> sp., dapat menurunkan produktivitas hingga 5-30%, bahkan menyebabkan gagal panen. Pengendalian hayati menggunakan <em>Streptomyces</em> sp. dan pestisida nabati seperti daun sirih dan daun kelakai adalah alternatif ramah lingkungan. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas kombinasi tersebut terhadap antraknosa pada cabai hiyung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi bakteri <em>Streptomyches</em> sp., pestisida nabati Daun Kelakai, pestisida nabati Daun Sirih dan kombinasinya mampu menurunkan kejadian penyakit antraknosa dengan kejadian penyakit berkisar 15.05%-21.33% dibandingkan kontrol yang kejadian penyakitnya 33.24%. Hasil analisis efektivitas pengendalian penyakit terdapat 4 perlakuan yang cukup efektif yaitu Sirih 54.72%, <em>Streptomyces</em> sp. 46.48%, kombinasi Sirih dan <em>Streptomyces</em> sp. 43.65%, serta kombinasi kelakai dan <em>Streptomyces</em> sp 40.94%. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa perlakuan pestisida nabati Sirih adalah perlakuan terbaik dalam menghasilkan tanaman tertinggi 30.56 cm dan meningkatkan berat basah dengan hasil 83.38 g, diikuti dengan perlakuan Kelakai yang juga menghasilkan hasil panen tertinggi 82.03 g. Selain itu, seluruh perlakuan yang diberikan mampu mempercepat umur pembungaan cabai 56.08-57.52 hari dibandingkan kontrol selama 58.28 hari.</p>2025-02-03T00:00:00+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3088Tingkat Kerusakan Tanaman Seledri Akibat Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) Di Landasan Ulin Utara Kota Banjarbaru2025-02-04T23:09:56+08:00Dewi Dhea Yantiandrobjm105@gmail.comDewi Fitriyantidewifitriyanti@ulm.ac.idYusriadi Marsuniyusriadimarsuni@ulm.ac.id<p>Tanaman seledri (<em>Apium graveolens</em> L.), merupakan sayuran bernilai ekonomis yang biasa digunakan sebagai penyedap masakan, penambah bumbu masakan, dan penghias masakan. Dalam budidaya tanaman seledri, ada salah satu kendala dalam budidayanya yaitu adanya gangguan dari Nematoda Puru Akar (NPA). Nematoda Puru Akar (NPA) merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kerusakan pada tanaman seledri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kerusakan yang disebabkan oleh nematoda puru akar pada tanaman seledri di Desa Sukamaju Ujung Landasan Ulin Utara. Pengambilan sampel tanaman seledri yang terinfeksi nematoda puru akar dilakukan dengan metode <em>purposive sampling</em> disuatu lahan petani di Desa Sukamaju Ujung Landasan Ulin Utara<em>. </em>Hasil penelitian menujukkan bahwa tingkat kerusakan tanaman seledri yang disebabkan oleh nematoda puru akar tinggi, hal ini diitunjukkan dengan intensitas kerusakan (72,8%) dan keparahan penyakit (58,3) dan jumlah populasi di dalam jaringan akar sebesar (138,6) nematoda serta populasi pada ekstraksi tanah sebesar (217,3) nematoda.</p>2025-02-03T12:10:56+08:00##submission.copyrightStatement##http://103.81.100.242/index.php/jpt/article/view/3089Identifikasi Cendawan Pascapanen Pada Jagung Pakan Ternak yang Dijual Pengecer Di Kota Banjarbaru2025-02-04T23:09:57+08:00Zahra Fauziyyah Laodjazahralaodja27@gmail.comDewi Fitriyantidewifitriyanti@ulm.ac.idNoor Aidawatinooraidawati@ulm.ac.id<p>Jagung (<em>Zea mays</em> L.) merupakan salah satu sumber pangan utama penduduk dunia, selain itu dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun kendala di lapangan jagung pakan mudah terkontaminasi oleh cendawan pascapanen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi cendawan yang menginfeksi jagung pakan pascapanen yang beredar di Kota Banjarbaru. Metode penelitian menggunakan Pusposive sampling yang dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Hasil penelitian menunjukan terdapat cendawan pascapanen pada jagung pakan ternak yaitu <em>Aspergillus flavus</em> sebanyak 15 isolat, <em>Aspergillus</em> <em>niger</em> 10 isolat, <em>Penicillium</em> sp. 2 isolat, <em>Fusarium</em> sp. 6 isolat, dan <em>Rhizoctonia</em> sp. 1 isolat, sehingga didapat 34 isolat dari jagung yang bergejala dan tidak bergejala. Tiga jenis cendawan merupakan cendawan kontaminan dan menghasilkan mikotoksin yaitu <em>Aspergillus</em> sp., <em>Fusarium</em> sp., dan <em>Penicillium</em> sp.</p>2025-02-03T12:15:14+08:00##submission.copyrightStatement##